Tak kusangka hatiku akan sedih saat mereka membawa Blackstorm. Sudah berapa puluh bahkan ratusan kilometer kami lalui bersama.
Thursday, August 23, 2007
Selamat Jalan, Badai Hitam!
Senin, 20 Agustus 2007
Tak kusangka hatiku akan sedih saat mereka membawa Blackstorm. Sudah berapa puluh bahkan ratusan kilometer kami lalui bersama.
Melintas rimba, mendaki bukit, menyusur sungai. Dia pulalah yang berjasa membantu kerjaku selama ini, sebagai orang lapangan yang harus 'wira-wiri' kesana kemari demi sebuah karya.Tak ada yang kusesali saat aku harus merawatnya ketika sakit, bahkan berapa rupiah sudah kubayar untuk membuatnya kembali pulih. Namun saat ini aku tak mampu lagi menanggung semuanya. Aku harus melepasnya pergi. Tak banyak kata mampu kuucapkan saat ini. Selamat jalan Blackstorm.. thanks for every moment we spent together..
Tak kusangka hatiku akan sedih saat mereka membawa Blackstorm. Sudah berapa puluh bahkan ratusan kilometer kami lalui bersama.
Monday, August 13, 2007
Senja di Sospol
Kamis, 28 Juni 2007
15:38 WIB
Hariku tidak cukup baik. Beberapa rencana yang kususun harus batal. Saat ini aku coba tenangkan diriku dengan menyibukkan diri menulis beberapa patah kata, yang kurangkai menjadi sebuah cerita. Beberapa kali kuperhatikan keadaan sekitar. Yah, kampus ini sudah sangat berbeda. Aku masih ingat 6 tahun lalu saat masih menjadi mahasiswa. Biasanya jam-jam segini masih banyak mahasiswa yang beraktifitas, atau hanya sekedar duduk dan mengobrol saja, di tempat ini. Yup, di 'Plaza' Fisipol UGM. Entah apa yang berubah. Apakah mahasiswa zaman sekarang sudah sebegitu sibuknya sehingga mungkin hanya sekedar duduk dan bercengkerama bersama rekan-rekan di kampus dipandang tidak bermanfaat sama sekali?
Masih sangat jelas dalam ingatanku saat itu. Dari sekedar duduk ngobrol dan meluangkan lebih banyak waktu di kampus (daripada pulang dan belajar) justru melahirkan banyak sekali ide-ide cantik yang bermanfaat sampai saat ini. Entah berapa kali tersungging senyum dari bibirku tanpa kusadari. Memori tentang kejadian atau obrolan lucu beberapa tahun lalu terlintas di benakku. Saat aku masih menjadi mahasiswa jurusan sosiologi, saat masih aktif di organisasi kepecintaalaman KPALH Setrajana, dimana 90% aktifitas hidup kuhabiskan di kampus (bahkan tidur juga di kampus). Dari tempat ini pula kupandangi sekretariat KPALH Setrajana, yang sepi seakan tak bernyawa. Kemana perginya manusia-manusia tangguh, dengan jiwa yang haus petualangan, dan mental sekeras baja itu? Sudah tiadakah insan-insan serupa di zaman ini. Ah, aku sangat merindukan masa-masa itu.
Tak terasa hujan tercurah kembali. Kulihat beberapa orang datang, segera duduk, membuka laptop masing-masing, dan kembali sibuk dalam alam individual mereka, entah apa yang dikerjakan. Aku kembali tersenyum, dan kali ini bukanlah memori lucu yang mendorong tindakan 'konyol'ku tersebut. Bahwa ternyata aku bukan satu-satunya orang bodoh yang tersenyum pada sebuah laptop. Beberapa dari mereka bahkan tertawa-tawa sendiri. Edan! Atau inikah wujud interaksi orang-orang zaman sekarang. Kalau pada zamanku untuk tertawa saja (dalam konteks orang waras) diperlukan lebih dari satu orang (selain nonton Srimulat, tentunya), di zaman sekarang cukup satu orang dan sebuah laptop. Ketika dulu aku membutuhkan orang lain untuk menggali ide-ide cemerlang sampai gila-gilaan, mungkin di zaman sekarang cukup satu orang dan sebuah laptop. Aku masih ingat sebuah buku karangan Giddens tentang Masyarakat Gelombang Ketiga yang kubaca saat masih kuliah. Dan (mungkin) saat ini aku sedang menghadapi masa itu. Masyarakat gelombang ketiga, secara gampang adalah kondisi dimana masyarakat tidak perlu 'face to face to interacts each other' tak perlu ada interaksi tatap muka karena interaksi 'langsung' dapat dilakukan lewat media (internet). Bahkan orang bisa mengeruk kekayaan hanya dengan duduk didepan komputernya di rumah masing-masing (yah, tentu maksudnya bukan jadi juru ketik lah!!).
Mungkin ini salah satu faktor penyebab 'sepi'nya dunia kampus dari aktifitas ekstrakurikuler mahasiswa.
Tiba-tiba teringatku pada sebuah kenangan tentang sebuah Vespa tua. Yah, kendaraanku saat masih berstatus mahasiswa. Teringat juga beberapa rekan mahasiswa dengan kendaraan yang hampir sama bututnya (yang jelas sih sama-sama hobi ngadat). Saat ini yang bisa kulihat di tempat parkir hanya deretan mobil dan motor-motor bagus. Kira-kira masih adakah mahasiswa yang berasal dari kalangan ekonomi bawah di kampus ini? Seperti halnya aku dan rekan-rekanku di zaman dahulu. Atau karena biaya kuliah yang membubung tinggi mengakibatkan hilangnya kelas itu di kampus ini. Sekali lagi aku tersenyum. Dan kali ini senyum kecut. Jangan-jangan ini yang menyebabkan dunia kampus sepi dari interaksi langsung mahasiswa. Yah karena tidak ada lagi yang namanya pinjem motor, pinjem komputer, pinjem buku or catetan (kayaknya kalo yang terakhir ini masih deh). Jelas karena setiap mahasiswa sudah memiliki semua fasilitas pendukung kelancaran kuliahnya. They can afford everything they need.
Kuhentikan aktifitasku, seorang rekan yang sudah kutunggu sejak tadi menyapaku. Ada bisnis baru yang akan kami rencanakan. Saat ini jam menunjukkan pukul 17:49. Tulisan di atas hanya sekedar reaksi spontan atas fenomena yang kulihat. Tidak ada metode khusus atau analisa didukung validitas data dalam penyusunannya, namun diharapkan dapat membawa pencerahan untuk semua saja.
15:38 WIB
Hariku tidak cukup baik. Beberapa rencana yang kususun harus batal. Saat ini aku coba tenangkan diriku dengan menyibukkan diri menulis beberapa patah kata, yang kurangkai menjadi sebuah cerita. Beberapa kali kuperhatikan keadaan sekitar. Yah, kampus ini sudah sangat berbeda. Aku masih ingat 6 tahun lalu saat masih menjadi mahasiswa. Biasanya jam-jam segini masih banyak mahasiswa yang beraktifitas, atau hanya sekedar duduk dan mengobrol saja, di tempat ini. Yup, di 'Plaza' Fisipol UGM. Entah apa yang berubah. Apakah mahasiswa zaman sekarang sudah sebegitu sibuknya sehingga mungkin hanya sekedar duduk dan bercengkerama bersama rekan-rekan di kampus dipandang tidak bermanfaat sama sekali?
Masih sangat jelas dalam ingatanku saat itu. Dari sekedar duduk ngobrol dan meluangkan lebih banyak waktu di kampus (daripada pulang dan belajar) justru melahirkan banyak sekali ide-ide cantik yang bermanfaat sampai saat ini. Entah berapa kali tersungging senyum dari bibirku tanpa kusadari. Memori tentang kejadian atau obrolan lucu beberapa tahun lalu terlintas di benakku. Saat aku masih menjadi mahasiswa jurusan sosiologi, saat masih aktif di organisasi kepecintaalaman KPALH Setrajana, dimana 90% aktifitas hidup kuhabiskan di kampus (bahkan tidur juga di kampus). Dari tempat ini pula kupandangi sekretariat KPALH Setrajana, yang sepi seakan tak bernyawa. Kemana perginya manusia-manusia tangguh, dengan jiwa yang haus petualangan, dan mental sekeras baja itu? Sudah tiadakah insan-insan serupa di zaman ini. Ah, aku sangat merindukan masa-masa itu.
Tak terasa hujan tercurah kembali. Kulihat beberapa orang datang, segera duduk, membuka laptop masing-masing, dan kembali sibuk dalam alam individual mereka, entah apa yang dikerjakan. Aku kembali tersenyum, dan kali ini bukanlah memori lucu yang mendorong tindakan 'konyol'ku tersebut. Bahwa ternyata aku bukan satu-satunya orang bodoh yang tersenyum pada sebuah laptop. Beberapa dari mereka bahkan tertawa-tawa sendiri. Edan! Atau inikah wujud interaksi orang-orang zaman sekarang. Kalau pada zamanku untuk tertawa saja (dalam konteks orang waras) diperlukan lebih dari satu orang (selain nonton Srimulat, tentunya), di zaman sekarang cukup satu orang dan sebuah laptop. Ketika dulu aku membutuhkan orang lain untuk menggali ide-ide cemerlang sampai gila-gilaan, mungkin di zaman sekarang cukup satu orang dan sebuah laptop. Aku masih ingat sebuah buku karangan Giddens tentang Masyarakat Gelombang Ketiga yang kubaca saat masih kuliah. Dan (mungkin) saat ini aku sedang menghadapi masa itu. Masyarakat gelombang ketiga, secara gampang adalah kondisi dimana masyarakat tidak perlu 'face to face to interacts each other' tak perlu ada interaksi tatap muka karena interaksi 'langsung' dapat dilakukan lewat media (internet). Bahkan orang bisa mengeruk kekayaan hanya dengan duduk didepan komputernya di rumah masing-masing (yah, tentu maksudnya bukan jadi juru ketik lah!!).
Mungkin ini salah satu faktor penyebab 'sepi'nya dunia kampus dari aktifitas ekstrakurikuler mahasiswa.
Tiba-tiba teringatku pada sebuah kenangan tentang sebuah Vespa tua. Yah, kendaraanku saat masih berstatus mahasiswa. Teringat juga beberapa rekan mahasiswa dengan kendaraan yang hampir sama bututnya (yang jelas sih sama-sama hobi ngadat). Saat ini yang bisa kulihat di tempat parkir hanya deretan mobil dan motor-motor bagus. Kira-kira masih adakah mahasiswa yang berasal dari kalangan ekonomi bawah di kampus ini? Seperti halnya aku dan rekan-rekanku di zaman dahulu. Atau karena biaya kuliah yang membubung tinggi mengakibatkan hilangnya kelas itu di kampus ini. Sekali lagi aku tersenyum. Dan kali ini senyum kecut. Jangan-jangan ini yang menyebabkan dunia kampus sepi dari interaksi langsung mahasiswa. Yah karena tidak ada lagi yang namanya pinjem motor, pinjem komputer, pinjem buku or catetan (kayaknya kalo yang terakhir ini masih deh). Jelas karena setiap mahasiswa sudah memiliki semua fasilitas pendukung kelancaran kuliahnya. They can afford everything they need.
Kuhentikan aktifitasku, seorang rekan yang sudah kutunggu sejak tadi menyapaku. Ada bisnis baru yang akan kami rencanakan. Saat ini jam menunjukkan pukul 17:49. Tulisan di atas hanya sekedar reaksi spontan atas fenomena yang kulihat. Tidak ada metode khusus atau analisa didukung validitas data dalam penyusunannya, namun diharapkan dapat membawa pencerahan untuk semua saja.
Subscribe to:
Posts (Atom)