Monday, June 25, 2007

Derai Kalbu (1)

aku masih ingat dan akan selalu ingat
kapan dan bagaimana rasanya saat pertama kali menyentuhmu
aku tidak ingin mengingat dan tidak akan pernah mengingat
kapan dan bagaimana rasanya jika aku tahu saat dimana ku terakhir kali menyentuhmu
aku tidak akan pernah peduli
apakah surga dan neraka itu benar adanya
namun aku tidak akan pernah takut kelak akan ada dimana
karena aku telah menemukan surgaku
disini
bersamamu. (^_^) 150407 1031AM

Tuesday, June 5, 2007

Sepenggal Kisah dalam Memori

Dini hari, jam dinding menunjukkan pukul 2 lebih 10 menit waktu itu, entah apa yang membuatku terjaga dari tidurku. Aku tidak ingat lagi berapa usiaku ketika kejadian itu kualami, yah, aku masih sangat kecil. Bunyi gunting memotong kain dari ruang depan agak keras terdengar mengiringi dingin dan sunyinya malam itu.

Beranjak dari peraduanku,
dengan malas kulangkahkan kakiku ke ruang depan. Sesosok wanita setengah baya menunduk menghadap meja potong (meja yang dirancang untuk memudahkan para penjahit merancang dan memotong pola pakaian), menekuni potongan-potongan pola yang baru saja diselesaikannya.

Ia belum menyadari ada sesosok tubuh kecil bersandar pada bingkai pintu,
menatapnya prihatin. Wanita itu beranjak mengumpulkan pola-pola tersebut untuk dijahitnya. Meski terlihat tenang, aku tahu kesedihan hati dan beban yang menggayuti pikirannya.

Sesekali terdengar senandungnya dalam bising suara mesin jahit yang tengah dioperasikannya. Entah berapa kali dibetulkannya letak jarum pentul supaya hasil jahitannya tetap rapi meski dikerjakannya dengan tubuh yang menahan letih dan kantuk. Pemandangan inilah yang disaksikan si kecil setiap malam.

Betapa kuat wanita itu, meski raganya hanya tinggal kulit pembungkus tulang saja. Dalam benaknya, 2 putranya yang masih kecil perlu banyak biaya, tidak sekedar pangan dan sandang saja, namun lebih pada bagaimana putra-putranya memperoleh pendidikan yang berkualitas meskipun harus dibayar cukup mahal untuk seorang wanita yang ditinggalkan suaminya entah kemana. Entah pukul berapa pakaian itu bisa diselesaikannya. Pukul 7 pagi sampai 2 siang nanti ia harus menunaikan tugasnya sebagai seorang karyawan Tata Usaha di salah satu SMU Swasta tidak populer di kotanya. Belum lagi kewajibannya mengurus dan mendidik putra-putranya supaya
menjadi besar seperti yang dia harapkan. Menjadi manusia bermoral, beretika, cerdas, berguna bagi masyarakat, bangsa, dan negaranya.

Setelah cukup lama tertegun, terdengar protes dari mulut mungilku saat itu,

"Ibu kok tidak bobo lagi malam ini ?"

Monday, June 4, 2007

24 Jam Nafas Algoni

Rabu 9 Mei 2007
Dini hari, lewat tengah malam, selepas Banjarejo, kupacu Blacstorm gila-gilaan, dan tidaklah mengecewakan ... kulakukan beberapa atraksi ringan bersama Blackstorm .. haha cukup mengesankan..

Bayanan, dini hari, kurendam diriku dalam bak air panas, coba lepaskan semua ketegangan, cukup nyaman

Gempol, pagi hari, seiring keletihan karena petualangan semalam, kupaksa tubuh dan pikiran untuk selesaikan beberapa tanggung jawabku. Kuambil beberapa gambar dari 6 lokasi andil penggarap lahan di 2 petak, untuk keperluan lomba tanaman yang digelar LMDH Gempol sesuai tertera dalam rencana dan strategi yang telah disusun dan disepakati bersama tempo waktu yang lalu.

Sambong, sore hingga petang, kubuka beberapa surat yang masuk ke e-mailku, hasilnya agak mengecewakan karena sesuatu yang kubutuhkan justru belum dikirimkan. Sekali lagi kuhibur diriku dengan menghubungi Ibu, meski tidak 100% terhibur, karena ada rencana ke depan yang enggan kusampaikan padanya, ah .. aku takut akan menyakiti dan mengecewakannya sekali lagi setelah yang kesekian kalinya.

Tanggel, malam hari, kucoba lepaskan rinduku padanya dengan memandangi gambarnya di layar Evo-ku. Aku mencintainya, sangat, izinkan aku memilikinya, Tuhan, tanpa harus mengecewakan siapapun... apakah permintaan tulus ini begitu berat Kau kabulkan ya Tuhan Allahku, Raja Manusia.

Penggalan Catatan Harian Algoni

Jumat 20 April 2007
Aku tidak tahu lagi kemana arah angin akan membawaku semakin jauh darimu, aku hanya merasa apa yang kulakukan seakan tidak ada ujung pangkalnya, aku tak lagi tahu mula dan juga tiada kutemukan akhir. Kerinduanku padamu mungkin satu-satunya semangat hidupku saat ini, ditengah galaunya perasaan dan pikiran oleh hiruk pikuknya rencana-rencana dan tanggung jawab yang harus dipenuhi. Hawa Tanggel pagi ini tidak begitu dingin, namun entah mengapa aku sangat menggigil, sementara semangatku tuk berkarya justru semakin menurun. Aku hanya tidak ingin mengeluh, sekedar supaya tidak mengecewakan banyak orang yang saat ini bersandar pada semangatku untuk terus maju.
Delapan hariku di Randublatung tidaklah begitu baik, pikiran dan tindakanku tidak produktif, banyak langkah yang justru tidak efektif, dan sangat menguras energi. Aku hanya berharap dan seperti biasa akan kembali berharap semuanya bisa kuselesaikan sebagaimana aku berani mengawalinya.

Sabtu 21 April 2007
Lagi.. untuk sekali lagi kuhirup nafas dari udara dingin pagi ini, bersyukur (atau entah apakah sebaiknya aku mengutuk) aku masih hidup pagi ini. Keletihan menyanderaku, kebingungan masih saja menggayutiku, aku bimbang.. dusta .. dan selalu dengan dusta kuberkutat. Apa yang kucari? Eksistensi untuk sebuah posisikah? atau sekedar menyelamatkan diri? apa yang telah kulakukan.. bagaimana aku bisa meninggalkan nurani sejauh ini? Dan sekali lagi.. mungkin juga akan menjadi berkali-kali lagi, jatuh dalam kesalahan yang sama. Apakah aku masih pantas berharap padamu Tuhan? Tolong selamatkan aku kali ini.. sekali lagi.. setelah berkali-kali... bagaimana bisa kuhirup nafasmu hari ini.. selamatkanlah aku Tuhan.. aku mohon.

Minggu 22 April 2007
Entah apa ini yang Kumaksud dengan selamat.. aku hanya mengulur kematianku saja. Rasanya aku sudah tidak lagi sanggup menahannya, terlalu sesak, dan aku masih kecewa pada diriku sendiri. Aku berlari dan terus berlari, aku tak tahu bagaimana berhenti. Aku sangat ingin berhenti, dan menghadapi semua ketakutanku, dan memusnahkan segala kekhawatiranku

Senin 23 April 2007
Sekali lagi aku harus mengutuk dan mengumpat, aku berpikir sudah lolos kemarin!! Sial benar, semua terjadi di luar perkiraan, tapi aku mungkin masih beruntung.. mungkin!! Setidaknya aku masih bisa meregang nafasku saat ini.