Wednesday, October 3, 2007

Fur Vivie (2)

2 Oktober 2007
22:36 WIB

Mulanya kubiarkan mawar-mawar itu tumbuh di hatiku. Aku juga tak peduli batang dan cabangnya tumbuh, menjerat dan membelit dinding-dinding hatiku. Aku terpesona saat kuncup-kuncupnya bersemi, terlena kala wanginya mengecup ruang-ruang hampa.
Kusadari perlahan-lahan durinya menusuk, dalam, dan semakin dalam. Perih. Sakit, dan semakin sakit. Namun aku tak ingin mawar-mawar itu pergi... kubiarkan ia terus tumbuh... dan kubiarkan ia menusuk semakin dalam... dan kubiarkan hatiku semakin terluka. Kan kubiarkan terus tumbuh, hingga layu dan mati dengan sendirinya.

Tuesday, October 2, 2007

Fur Vivie

1 Oktober 2007
Hari Kesaktian Pancasila
19:01

Entah apa yang ada di benakku saat ini... aku bimbang... aku bingung. Perasaanku tak menentu. Aku berlari di padang gersang, diiringi bunga2 kapas beterbangan.. aku sendirian. Jikalau tangis bisa redakan gemuruh, kan kubiarkan derai air mata. Bilamana keluh kesah dapat hilangkan gundah, kan kubiarkan desah. Saat ini logika tak bekerja. Mana yang benar.. mana yang salah. Blank!!

Masih kuberlari... letih... Blank!!

Apa aku akan jatuh... atau aku akan terus berlari seperti ini? Blank

Bunga-bunga kapas tak lagi beterbangan... angin tak lagi berhembus.. pantaskah aku berhenti disini? Aku mengejar.. aku dikejar. Apa yang kukejar.. apa yang mengejar? Blank!!

Samar kulihat bayangmu.. anggun dan agung.. melayang di awang-awang
Dimana mega tak lagi putih... dimana langit tak lagi biru... semua kabur dalam keraguan.. Blank!!

Tak mampu dirimu kucitrakan... tak lagi imaji berkreasi. Blank!!

Padang gersang hilang. Blank!!

Aku di dalam kamu... atau kamu di dalam aku? Blank!!

Gamang!

Dirimukah awal segala risau? Dirimukah akhir segala ragu? Blank!!

Wednesday, September 12, 2007

Kreasi Kayu Limbah Jati Menawan Hati

Tak banyak yang bisa mereka harapkan selain kemudahan dalam memenuhi kebutuhan ekonominya. Terkadang jalan pintas menjadi sebuah keharusan. Sekedar untuk urusan perut. Bertahan hidup. Tebang sebatang dua, terkadang tak sepadan dengan konsekuensi yang didapat. Sekelumit gambaran tentang kondisi masyarakat sebuah desa hutan di kabupaten Blora, Propinsi Jawa Tengah, yang hidupnya bergantung pada sumberdaya hutan. Jauh dari pusat pertumbuhan, minim fasilitas, dan masih berlakunya hukum rimba. Survival of the fittest. Dalam keterhimpitan, beberapa coba tuangkan daya kreasi dalam karya-karyanya. Memanfaatkan yang sudah tidak berguna, menjadi sesuatu dengan nilai fungsi dan ekonomi. Anda tertarik?



Meja kopi (Coffee Table)
Karya Bpk. Jumingun
Desa Gempol, Kec. Jati
Blora

Meja Televisi (TV Table)
Karya Bpk. Jumingun
Desa Gempol, Kec. Jati
Blora


Almari (Wardrobe)
Karya Bpk. Jumingun
Desa Gempol, Kec. Jati
Blora


Bangku Kopi (Coffee Chair)
Karya Bpk. Jumingun
Desa Gempol, Kec. Jati
Blora


Dingklik (Small Bench)
Karya Bpk. Jumingun
Desa Gempol, Kec. Jati
Blora


Beberapa contoh barang tersebut dibuat dari bahan baku kayu limbah, yakni kayu yang tidak masuk dalam kelas kayu yang dibutuhkan perusahaan pengelola hutan negara (Perum Perhutani). Bentuk barang bervariasi sesuai ukuran dan bentuk kayu limbah yang diperoleh, sehingga berpengaruh dalam hal harga barang. Namun jaminan kualitas tetap menjadi prioritas utama. Masih banyak karya yg belum terpublikasikan, bila tertarik, saya bisa hubungkan anda langsung ke perajinnya. Cp: Novenanto 081578118839






Thursday, August 23, 2007

Selamat Jalan, Badai Hitam!

Senin, 20 Agustus 2007

Tak kusangka hatiku akan sedih saat mereka membawa Blackstorm. Sudah berapa puluh bahkan ratusan kilometer kami lalui bersama. Melintas rimba, mendaki bukit, menyusur sungai. Dia pulalah yang berjasa membantu kerjaku selama ini, sebagai orang lapangan yang harus 'wira-wiri' kesana kemari demi sebuah karya.Tak ada yang kusesali saat aku harus merawatnya ketika sakit, bahkan berapa rupiah sudah kubayar untuk membuatnya kembali pulih. Namun saat ini aku tak mampu lagi menanggung semuanya. Aku harus melepasnya pergi. Tak banyak kata mampu kuucapkan saat ini. Selamat jalan Blackstorm.. thanks for every moment we spent together..







Monday, August 13, 2007

Senja di Sospol

Kamis, 28 Juni 2007
15:38 WIB

Hariku tidak cukup baik. Beberapa rencana yang kususun harus batal. Saat ini aku coba tenangkan diriku dengan menyibukkan diri menulis beberapa patah kata, yang kurangkai menjadi sebuah cerita. Beberapa kali kuperhatikan keadaan sekitar. Yah, kampus ini sudah sangat berbeda. Aku masih ingat 6 tahun lalu saat masih menjadi mahasiswa. Biasanya jam-jam segini masih banyak mahasiswa yang beraktifitas, atau hanya sekedar duduk dan mengobrol saja, di tempat ini. Yup, di 'Plaza' Fisipol UGM. Entah apa yang berubah. Apakah mahasiswa zaman sekarang sudah sebegitu sibuknya sehingga mungkin hanya sekedar duduk dan bercengkerama bersama rekan-rekan di kampus dipandang tidak bermanfaat sama sekali?
Masih sangat jelas dalam ingatanku saat itu. Dari sekedar duduk ngobrol dan meluangkan lebih banyak waktu di kampus (daripada pulang dan belajar) justru melahirkan banyak sekali ide-ide cantik yang bermanfaat sampai saat ini. Entah berapa kali tersungging senyum dari bibirku tanpa kusadari. Memori tentang kejadian atau obrolan lucu beberapa tahun lalu terlintas di benakku. Saat aku masih menjadi mahasiswa jurusan sosiologi, saat masih aktif di organisasi kepecintaalaman KPALH Setrajana, dimana 90% aktifitas hidup kuhabiskan di kampus (bahkan tidur juga di kampus). Dari tempat ini pula kupandangi sekretariat KPALH Setrajana, yang sepi seakan tak bernyawa. Kemana perginya manusia-manusia tangguh, dengan jiwa yang haus petualangan, dan mental sekeras baja itu? Sudah tiadakah insan-insan serupa di zaman ini. Ah, aku sangat merindukan masa-masa itu.
Tak terasa hujan tercurah kembali. Kulihat beberapa orang datang, segera duduk, membuka laptop masing-masing, dan kembali sibuk dalam alam individual mereka, entah apa yang dikerjakan. Aku kembali tersenyum, dan kali ini bukanlah memori lucu yang mendorong tindakan 'konyol'ku tersebut. Bahwa ternyata aku bukan satu-satunya orang bodoh yang tersenyum pada sebuah laptop. Beberapa dari mereka bahkan tertawa-tawa sendiri. Edan! Atau inikah wujud interaksi orang-orang zaman sekarang. Kalau pada zamanku untuk tertawa saja (dalam konteks orang waras) diperlukan lebih dari satu orang (selain nonton Srimulat, tentunya), di zaman sekarang cukup satu orang dan sebuah laptop. Ketika dulu aku membutuhkan orang lain untuk menggali ide-ide cemerlang sampai gila-gilaan, mungkin di zaman sekarang cukup satu orang dan sebuah laptop. Aku masih ingat sebuah buku karangan Giddens tentang Masyarakat Gelombang Ketiga yang kubaca saat masih kuliah. Dan (mungkin) saat ini aku sedang menghadapi masa itu. Masyarakat gelombang ketiga, secara gampang adalah kondisi dimana masyarakat tidak perlu 'face to face to interacts each other' tak perlu ada interaksi tatap muka karena interaksi 'langsung' dapat dilakukan lewat media (internet). Bahkan orang bisa mengeruk kekayaan hanya dengan duduk didepan komputernya di rumah masing-masing (yah, tentu maksudnya bukan jadi juru ketik lah!!).
Mungkin ini salah satu faktor penyebab 'sepi'nya dunia kampus dari aktifitas ekstrakurikuler mahasiswa.
Tiba-tiba teringatku pada sebuah kenangan tentang sebuah Vespa tua. Yah, kendaraanku saat masih berstatus mahasiswa. Teringat juga beberapa rekan mahasiswa dengan kendaraan yang hampir sama bututnya (yang jelas sih sama-sama hobi ngadat). Saat ini yang bisa kulihat di tempat parkir hanya deretan mobil dan motor-motor bagus. Kira-kira masih adakah mahasiswa yang berasal dari kalangan ekonomi bawah di kampus ini? Seperti halnya aku dan rekan-rekanku di zaman dahulu. Atau karena biaya kuliah yang membubung tinggi mengakibatkan hilangnya kelas itu di kampus ini. Sekali lagi aku tersenyum. Dan kali ini senyum kecut. Jangan-jangan ini yang menyebabkan dunia kampus sepi dari interaksi langsung mahasiswa. Yah karena tidak ada lagi yang namanya pinjem motor, pinjem komputer, pinjem buku or catetan (kayaknya kalo yang terakhir ini masih deh). Jelas karena setiap mahasiswa sudah memiliki semua fasilitas pendukung kelancaran kuliahnya. They can afford everything they need.
Kuhentikan aktifitasku, seorang rekan yang sudah kutunggu sejak tadi menyapaku. Ada bisnis baru yang akan kami rencanakan. Saat ini jam menunjukkan pukul 17:49. Tulisan di atas hanya sekedar reaksi spontan atas fenomena yang kulihat. Tidak ada metode khusus atau analisa didukung validitas data dalam penyusunannya, namun diharapkan dapat membawa pencerahan untuk semua saja.

Monday, June 25, 2007

Derai Kalbu (1)

aku masih ingat dan akan selalu ingat
kapan dan bagaimana rasanya saat pertama kali menyentuhmu
aku tidak ingin mengingat dan tidak akan pernah mengingat
kapan dan bagaimana rasanya jika aku tahu saat dimana ku terakhir kali menyentuhmu
aku tidak akan pernah peduli
apakah surga dan neraka itu benar adanya
namun aku tidak akan pernah takut kelak akan ada dimana
karena aku telah menemukan surgaku
disini
bersamamu. (^_^) 150407 1031AM

Tuesday, June 5, 2007

Sepenggal Kisah dalam Memori

Dini hari, jam dinding menunjukkan pukul 2 lebih 10 menit waktu itu, entah apa yang membuatku terjaga dari tidurku. Aku tidak ingat lagi berapa usiaku ketika kejadian itu kualami, yah, aku masih sangat kecil. Bunyi gunting memotong kain dari ruang depan agak keras terdengar mengiringi dingin dan sunyinya malam itu.

Beranjak dari peraduanku,
dengan malas kulangkahkan kakiku ke ruang depan. Sesosok wanita setengah baya menunduk menghadap meja potong (meja yang dirancang untuk memudahkan para penjahit merancang dan memotong pola pakaian), menekuni potongan-potongan pola yang baru saja diselesaikannya.

Ia belum menyadari ada sesosok tubuh kecil bersandar pada bingkai pintu,
menatapnya prihatin. Wanita itu beranjak mengumpulkan pola-pola tersebut untuk dijahitnya. Meski terlihat tenang, aku tahu kesedihan hati dan beban yang menggayuti pikirannya.

Sesekali terdengar senandungnya dalam bising suara mesin jahit yang tengah dioperasikannya. Entah berapa kali dibetulkannya letak jarum pentul supaya hasil jahitannya tetap rapi meski dikerjakannya dengan tubuh yang menahan letih dan kantuk. Pemandangan inilah yang disaksikan si kecil setiap malam.

Betapa kuat wanita itu, meski raganya hanya tinggal kulit pembungkus tulang saja. Dalam benaknya, 2 putranya yang masih kecil perlu banyak biaya, tidak sekedar pangan dan sandang saja, namun lebih pada bagaimana putra-putranya memperoleh pendidikan yang berkualitas meskipun harus dibayar cukup mahal untuk seorang wanita yang ditinggalkan suaminya entah kemana. Entah pukul berapa pakaian itu bisa diselesaikannya. Pukul 7 pagi sampai 2 siang nanti ia harus menunaikan tugasnya sebagai seorang karyawan Tata Usaha di salah satu SMU Swasta tidak populer di kotanya. Belum lagi kewajibannya mengurus dan mendidik putra-putranya supaya
menjadi besar seperti yang dia harapkan. Menjadi manusia bermoral, beretika, cerdas, berguna bagi masyarakat, bangsa, dan negaranya.

Setelah cukup lama tertegun, terdengar protes dari mulut mungilku saat itu,

"Ibu kok tidak bobo lagi malam ini ?"

Monday, June 4, 2007

24 Jam Nafas Algoni

Rabu 9 Mei 2007
Dini hari, lewat tengah malam, selepas Banjarejo, kupacu Blacstorm gila-gilaan, dan tidaklah mengecewakan ... kulakukan beberapa atraksi ringan bersama Blackstorm .. haha cukup mengesankan..

Bayanan, dini hari, kurendam diriku dalam bak air panas, coba lepaskan semua ketegangan, cukup nyaman

Gempol, pagi hari, seiring keletihan karena petualangan semalam, kupaksa tubuh dan pikiran untuk selesaikan beberapa tanggung jawabku. Kuambil beberapa gambar dari 6 lokasi andil penggarap lahan di 2 petak, untuk keperluan lomba tanaman yang digelar LMDH Gempol sesuai tertera dalam rencana dan strategi yang telah disusun dan disepakati bersama tempo waktu yang lalu.

Sambong, sore hingga petang, kubuka beberapa surat yang masuk ke e-mailku, hasilnya agak mengecewakan karena sesuatu yang kubutuhkan justru belum dikirimkan. Sekali lagi kuhibur diriku dengan menghubungi Ibu, meski tidak 100% terhibur, karena ada rencana ke depan yang enggan kusampaikan padanya, ah .. aku takut akan menyakiti dan mengecewakannya sekali lagi setelah yang kesekian kalinya.

Tanggel, malam hari, kucoba lepaskan rinduku padanya dengan memandangi gambarnya di layar Evo-ku. Aku mencintainya, sangat, izinkan aku memilikinya, Tuhan, tanpa harus mengecewakan siapapun... apakah permintaan tulus ini begitu berat Kau kabulkan ya Tuhan Allahku, Raja Manusia.

Penggalan Catatan Harian Algoni

Jumat 20 April 2007
Aku tidak tahu lagi kemana arah angin akan membawaku semakin jauh darimu, aku hanya merasa apa yang kulakukan seakan tidak ada ujung pangkalnya, aku tak lagi tahu mula dan juga tiada kutemukan akhir. Kerinduanku padamu mungkin satu-satunya semangat hidupku saat ini, ditengah galaunya perasaan dan pikiran oleh hiruk pikuknya rencana-rencana dan tanggung jawab yang harus dipenuhi. Hawa Tanggel pagi ini tidak begitu dingin, namun entah mengapa aku sangat menggigil, sementara semangatku tuk berkarya justru semakin menurun. Aku hanya tidak ingin mengeluh, sekedar supaya tidak mengecewakan banyak orang yang saat ini bersandar pada semangatku untuk terus maju.
Delapan hariku di Randublatung tidaklah begitu baik, pikiran dan tindakanku tidak produktif, banyak langkah yang justru tidak efektif, dan sangat menguras energi. Aku hanya berharap dan seperti biasa akan kembali berharap semuanya bisa kuselesaikan sebagaimana aku berani mengawalinya.

Sabtu 21 April 2007
Lagi.. untuk sekali lagi kuhirup nafas dari udara dingin pagi ini, bersyukur (atau entah apakah sebaiknya aku mengutuk) aku masih hidup pagi ini. Keletihan menyanderaku, kebingungan masih saja menggayutiku, aku bimbang.. dusta .. dan selalu dengan dusta kuberkutat. Apa yang kucari? Eksistensi untuk sebuah posisikah? atau sekedar menyelamatkan diri? apa yang telah kulakukan.. bagaimana aku bisa meninggalkan nurani sejauh ini? Dan sekali lagi.. mungkin juga akan menjadi berkali-kali lagi, jatuh dalam kesalahan yang sama. Apakah aku masih pantas berharap padamu Tuhan? Tolong selamatkan aku kali ini.. sekali lagi.. setelah berkali-kali... bagaimana bisa kuhirup nafasmu hari ini.. selamatkanlah aku Tuhan.. aku mohon.

Minggu 22 April 2007
Entah apa ini yang Kumaksud dengan selamat.. aku hanya mengulur kematianku saja. Rasanya aku sudah tidak lagi sanggup menahannya, terlalu sesak, dan aku masih kecewa pada diriku sendiri. Aku berlari dan terus berlari, aku tak tahu bagaimana berhenti. Aku sangat ingin berhenti, dan menghadapi semua ketakutanku, dan memusnahkan segala kekhawatiranku

Senin 23 April 2007
Sekali lagi aku harus mengutuk dan mengumpat, aku berpikir sudah lolos kemarin!! Sial benar, semua terjadi di luar perkiraan, tapi aku mungkin masih beruntung.. mungkin!! Setidaknya aku masih bisa meregang nafasku saat ini.